Morotai // Rekam Pena News.my.id // Kerusakan pada Bendungan Sangowo Barat di Kecamatan Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, menjadi perhatian masyarakat setelah bangunan tersebut terdampak banjir yang terjadi beberapa hari lalu.
Proyek bendungan yang dibangun pada tahun 2025 dengan nilai anggaran sekitar Rp28 miliar itu kini mengalami kerusakan pada sejumlah bagian konstruksi.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Jumat (12/6/2026), terlihat sebagian timbunan tanah yang berada di sisi bendungan mengalami longsor akibat tergerus aliran sungai.
Kondisi tersebut menyebabkan beberapa bagian struktur beton tampak terbuka karena material penyangga di sekitarnya berkurang.
Selain itu, banjir juga mengakibatkan sejumlah pohon kelapa di sekitar bantaran sungai tumbang dan terbawa arus.
Warga setempat menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi bendungan, terutama terkait daya tahan konstruksi apabila terjadi peningkatan debit air pada musim hujan mendatang.
Sejumlah masyarakat yang terdampak meminta adanya evaluasi terhadap pelaksanaan proyek tersebut.
Mereka berharap instansi terkait dapat melakukan peninjauan guna mengetahui penyebab kerusakan yang terjadi serta langkah penanganan yang diperlukan.
Salah seorang warga, Iskandar Sibua, menilai kondisi bendungan yang mengalami kerusakan meski belum lama selesai dibangun perlu mendapat perhatian dari pihak berwenang.
“Proyek ini belum lama dikerjakan, tetapi sudah mengalami kerusakan. Karena itu kami berharap ada pemeriksaan dan evaluasi terhadap pelaksanaannya,” ujarnya.
Selain kerusakan pada konstruksi, warga juga melaporkan adanya dampak terhadap lahan dan tanaman milik masyarakat. Sedikitnya 15 pohon kelapa dilaporkan roboh akibat banjir yang terjadi di sekitar area proyek.
Menanggapi informasi tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pulau Morotai, Fahmi Usman, mengaku baru menerima laporan mengenai kondisi bendungan tersebut.
Ia menyatakan akan berkoordinasi dengan pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara untuk memperoleh informasi lebih lanjut.
“Kalau benar bendungan itu mengalami kerusakan, saya akan segera berkoordinasi dengan pihak BWS Maluku Utara,” kata Fahmi saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Warga yang mengaku terdampak atas kerusakan lahan dan tanaman antara lain Djabal Sibua, Burhan Sibua, Arsad Sibua, Hi. Iskandar Sibua, Jamaluddin Sibua, serta ahli waris almarhum Hamid Lotar.
Mereka berharap persoalan yang berkaitan dengan dampak proyek dapat segera mendapatkan penyelesaian dari pihak terkait.
Hingga berita ini ditulis, pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi bendungan, penyebab kerusakan yang terjadi, maupun tuntutan yang disampaikan warga.
sumber:fata