Bojonegoro // Rekam Pena News //
Ketika musim penghujan datang membawa ancaman luapan air, warga Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kota Bojonegoro, memilih untuk tidak tinggal diam.
Senin pagi (27/4/2026), denyut gotong royong itu tampak nyata di sepanjang aliran Kali Avour, saat personel dari Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) turun langsung mengeruk sedimen yang mengendap di dasar saluran.
Dengan cangkul, sekop, dan sekitar 200 lembar karung pasir sebagai alat sederhana, mereka berjibaku melawan tumpukan lumpur yang selama ini perlahan menyempitkan jalur air.
Endapan sedimen yang dibiarkan terlalu lama bukan hanya menghambat aliran, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi rumah-rumah warga ketika hujan deras mengguyur kota.
Di bawah terik yang mulai meninggi, lumpur demi lumpur diangkat, dimasukkan ke dalam karung, lalu dipindahkan dari bibir saluran.
Sebuah pekerjaan yang tampak sederhana, namun sesungguhnya menjadi benteng pertama dalam mencegah banjir datang tanpa permisi.
Salah satu petugas lapangan, Tis, mengatakan bahwa pengerukan ini bukan sekadar rutinitas teknis, melainkan ikhtiar menjaga denyut kehidupan warga agar tidak lumpuh oleh genangan.
“Kalau saluran ini dibiarkan penuh lumpur dan sampah, saat hujan deras air pasti meluap. Karena itu kami bersama tim turun melakukan pembersihan.
Harapan kami masyarakat juga ikut sadar, jangan buang sampah sembarangan ke avour,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan banjir bukan semata urusan pemerintah. Ia lahir dari kebiasaan yang sering dianggap sepele—sampah yang dibuang sembarangan, saluran yang dibiarkan tersumbat, dan kepedulian yang perlahan memudar.
Karena itu, lanjut Tis, pembersihan saluran harus berjalan beriringan dengan tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat.
“Kalau saluran air rutin dibersihkan dan masyarakat ikut peduli, risiko banjir bisa ditekan sejak awal. Jangan menunggu banjir datang baru bergerak,” tambahnya.
Kali Avour sendiri bukan sekadar saluran air biasa. Ia adalah urat nadi pengendalian air di kawasan Kota Bojonegoro.
Ketika alirannya tersendat oleh lumpur dan sampah, dampaknya menjalar ke mana-mana—jalan lingkungan tergenang, rumah warga terendam, hingga aktivitas ekonomi ikut tersendat.
Apa yang dilakukan hari itu menjadi pengingat sederhana namun penting: banjir sering kali bukan semata soal hujan yang turun terlalu deras, melainkan tentang kelalaian yang dibiarkan tumbuh terlalu lama.
Di Kepatihan, perlawanan terhadap banjir dimulai dari cangkul, sekop, dan tangan-tangan yang memilih bergerak. Sebab menjaga kota, pada akhirnya, adalah pekerjaan bersama.
Penulis: Wawan.s