BOJONEGORO // Rekam Pena News.my.id // Budaya Kusuma Nusantara (BKN) memperkenalkan filosofi Ruwatan Murwokarso sebagai bagian dari tata ajaran organisasi dalam sebuah kegiatan yang berlangsung di kawasan tepian hutan Desa Ngorogunung, Kecamatan Bubulan, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (4/7/2026).
Dalam ajaran tersebut, BKN menjadikan falsafah Jawa "Rekso Wiwitaning Karsa Mrih Tan Lepat Ing Laku" sebagai pijakan utama.
Falsafah itu dimaknai sebagai ajakan untuk menjaga kemurnian niat sejak awal agar setiap pikiran, ucapan, dan tindakan tetap berada pada jalan yang benar.
Pimpinan Pusat Budaya Kusuma Nusantara, Kung Hari Suyoko, menjelaskan bahwa konsep Murwokarso merupakan pengembangan dari nilai-nilai Murwakala yang telah lama dikenal dalam tradisi Jawa.
Menurutnya, apabila Murwakala lebih menitikberatkan pada permohonan perlindungan dari berbagai marabahaya, maka Murwokarso berfokus pada pembinaan batin melalui penyucian kehendak atau karsa manusia.
"Ruwatan Murwokarso merupakan ikhtiar untuk menata dan membersihkan kehendak, niat, serta rasa dalam diri manusia.
Ketika karsa terbebas dari ego dan niat yang tidak baik, maka akan lahir kehidupan yang harmonis dengan sesama, alam, dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta," ujar Kung Hari Suyoko.
Ia menambahkan, tata ajaran Budaya Kusuma Nusantara memandang manusia sebagai bagian yang menyatu dengan Tuhan, sesama manusia, alam semesta, serta warisan budaya leluhur.
Oleh karena itu, setiap langkah kehidupan hendaknya diawali dengan niat yang baik agar tidak menyimpang dari nilai-nilai kebajikan.
Kung Hari Suyoko juga menyampaikan falsafah Jawa "Becik ngruwat sesangkaning lelakon tinimbang anglampahi sangkan kang luput", yang mengandung pesan bahwa memperbaiki niat sejak awal dinilai lebih utama daripada harus memperbaiki kesalahan setelah terjadi.
Menurutnya, ruwatan tidak hanya dipahami sebagai prosesi adat, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter yang dilakukan secara berkesinambungan.
Melalui pembinaan batin tersebut, manusia diharapkan memiliki kejernihan hati, mampu mengendalikan hawa nafsu, menjunjung tinggi budi pekerti, serta hidup selaras dengan lingkungan dan kehidupan sosial.
Sementara itu, Ketua Budaya Kusuma Nusantara, Lulus Setiawan, mengatakan nilai-nilai yang diajarkan dalam Murwokarso menjadi pedoman dalam berbagai kegiatan organisasi.
Implementasinya diwujudkan melalui doa bersama, kegiatan sosial, pelestarian lingkungan, hingga penguatan semangat gotong royong.
Menurutnya, upaya melestarikan budaya tidak hanya dilakukan melalui pelestarian seni dan tradisi, tetapi juga dengan membangun karakter masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap sesama, menghargai alam, dan menjunjung nilai-nilai luhur bangsa.
Melalui penyelenggaraan Ruwatan Murwokarso, Budaya Kusuma Nusantara berharap ajaran yang diwariskan para leluhur tetap hidup dan dapat menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan yang harmonis, berkeadaban, serta berlandaskan nilai-nilai spiritual.
Penulis: Wawan.s